Monday, July 1

Si Lulusan S1 yang Nekat

S1, itulah yang ia bangga-banggakan. "Saya mah mas lulusan S1, semua anak bapak saya lulusan S1." Kata-kata itu selalu muncul dari mulut Mas Hari, supir dari sebuah mobil mewah yang kutemui di sebuah restoran di daerah Setiabudi, Bandung.
"Saya tak seberuntung Kakak saya yang bisa melanjutkan S2", lanjutnya. Tanda tanya muncul di kepalaku, apa yang terjadi pada lulusan S1 yang berada tepat di sebelahku ini? Sambil menyeruput kopinya di gelas aqua bekas yang tentunya tidak baik untuk kesehatan, ia berkata, "ya maklumlah orang kaya saya mah bisa lulus SD aja udah bagus bisa S1 kan, dek." Seusai kata-kata itu keluar dari mulutnya, saya tercengang. Telah sekian lama saya buta, saya lupa bahwa banyak dari 200 juta masyarakat Indonesia yang tidak mendapatkan fasilitas yang layak dari pemerintah mulai dari di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan segala-galanya.
"Rokok dek?" tawarnya pada saya. Berhubung saya bukan perokok maka saya menolak tawarannya tersebut. Nah darisinilah cerita bermula.....

cikicuw

Cinta monyet, itulah yang sedang kurasakan saat ini. Bukanlah cinta monyet yang dimainkan oleh anak SD, bukanlah cinta-cintaan seperti yang ada di film-film. Lalu kenapa kusebut cinta monyet? Karena saat aku berada dalam permainan cinta tersebut, aku tak lebih pinter dari seorang monyet. Apapun kulakukan agar ia tersenyum, tak lebih dari seorang monyet penghibur yang hanya ingin membuat majikannya tertawa.
Manusia macam apa aku ini yang rela merendahkan harga diriku untuk sesosok makhluk bernama wanita? kurang ajar, tak tahu malu, maunya dilayani saja, mau enaknya saja, egois, tak berperikemanusiaan, terlalu sesukanya, aku tak tahu lagi.
tapi apa daya? aku sudah buta, buta oleh cinta, cinta tak memakai mata, buatku tak merasa, sakitnya bermain asmara. Aku muak! muak akan segalanya, muak akan diriku yang tak sadar bahwa aku berada di jalan yang salah, muak terhadap ia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tak sadar akan artinya aku. apa aku memang tak memiliki arti dalam hidupnya? aku tak mengerti dan aku tak peduli, aku tak mau ambil pusing, aku sudah terlalu pusing. Cinta buatku buta, buatku jadi monyet, itulah cinta monyetku

Friday, May 31

hmm

blog blog, siapapun di sana, please mau banget curhat. gatau ya kenapa, ga ada yang bisa diceritain di dunia ini. gua cuma gatau mau cerita ke siapa hm.. Jadi coba mulai dari sebuah pertanyaan sederhana deh. Apa pacaran itu perlu? sebenernya guna dari pacaran tuh apa sih?
kenapa ya gua mulai apatis hmm bukan apatis juga sih gua belom homo dan masih suka sama cewe tapi begini ceritanya...
gua lagi deket sama seorang cewe, gatau kenapa cewe itu tuh ibarat jatuh dari langit dan khusus buat gua.
she's totally my type loh ga ada satu bagian pun dari dia yang gua ga suka...
tapi entah kenapa gua terlalu bodoh untuk menyadari semuanya hingga semuanya telah terlambat. gua udah membuat suatu keslahan besar dengan melewatkannya dan membiarkannya menangis karena kekecewaannya padaku.
sekarang wanita ini telah menyandang status sebagai kekasihku. namun apalah artinya kekasih. blog, dia tuh ga peduli kayanya ada gua apa ngga. gua tau gua salah dengan gua ngomong kaya gini serius deh gua juga tau teorinya tapi kenyataannya susah banget nerapin teori tsb. gua....  pengen dia sepenuhnya jadi milik gua, apa itu terlalu egois ga sih? gua cuma mau hidup bareng dia gitu jadi pendamping gua tapi kenapa jalannya berat banget dan ada aja selalu halangannya.
Tuhan aku bener bener gatau apa aku sanggup ngelewatin cobaan tentang masalah ini ya karena aku bukan orang yan gkuat tanpa-Mu. aduh maaf ya Tuhan masa cuma gara2 deketin cewe aku sampe curhat kaya gini sama Tuhan, maaf ya Tuhan. Tuhan tapi aku mohon banget tolong tunjukkin jalannya dong, aku udah janji sama diri aku sendiri kalo wanita ini tuh yang terakhir, aku udah males nyari2 pacar lagi beneran deh ga ada abisnya. kalo emang yang ini bukan jodohku, tolong luruskan hatiku ya Tuhan agar tidak lagi tergoda oleh godaan2 duniawi dan terlepas dari segala hal yang mengikatku untuk lebih dekat pada-Mu. Tuhan meskipun dia sekarang adalah kekasihku, aku tak merasakan hatinya menjadi milikku. Apa memang benar ia untukku? aku pun ragu. bukan, aku sangat yakin tapi apakah itu amanat-Mu? aku merasa dia sangat cocok bagiku Tuhan tapi mengapa jalan kami tidak pernah sekalipun lurus dan selalu berliku-liku? Tuhan tolong kuatkan aku di jalan yang berliku ini untuk mendapatkan hatinya, jika memang ia tercipta untukku, buatlah aku tetap tegar berjalan di jalan ini , jalan yang kuanggap benar ya Tuhan. boleh jujur curhat lagi ga Tuhan? dia tuh kaya terpaksa gitu pacaran sama aku, ser\ius deh selalu aja menjurusnya kesitu seakan2 dia neysel, aku ga tau harus ngapain lagi. aku cuma bisa buktiin kalo semua perkataan orang dwan semua pandangan orang2 itu salah. Aku sayang sama dia lebih dari segala sesuatu, sama seperti aku menyayangi keluargaku sendiri dan seperti aku menyayangi-Mu. sama sekali ia tidak mempercayaiku, aku tak tahu harus berbuat apa untuk membuatnya percaya selaiun berharap padaw waktu untuk menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi.

Sunday, December 30

renungan dalam diri


Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, terkadang satu-satunya hal yang pling kita butuhkan adalah hal yang paling kecil yang kadang selalu kita lupakan saat ada hal yang lebih besar dating dalam hidup kita. Kita membutuhkan waktu sendiri, ya, sendiri, jauh dari keramaian, di tempat sepi, dimana kita dapat berdiam sejenak, lari dari kehidupan kita, dan berpikir akan jadi apa kita kelak dan apakah tujuan hidup kita sebenarnya di dunia ini. Sebenarnya, masalah tentang tujuan hidup kita di dunia ini bukanlah hal baru yang baru pertama kali kita hadapi, ambil contoh, misalnya saja sayayakin saat anda membaca tulisan ini, anda pasti pernah setidaknya sekali, memikirkan apakah tujuan hidup anda di dunia ini dan apa yang inigni anda capai kelak.
Ya, poin saya adalah kesendirian. Kadang kita memang memerlukan kesendirian, tak peduli bahwa kata orang pintar, kita ini makhluk social. Sesosial-sosialnya orang, pasti ia tetap memerlukan waktu seorang diri,ya, benar-benar seorang diri, tanpa campur tangan dari siapapun. Tuhan, tolon gbimibng aku agar dalam kesendirianku, aku dapat menemukan kehadiran-Mu dan campur tangan Mu dalam hidupku ini.
Kadang hati anda sendiri pun pasti pernah meminta meraung-raung kepada anda agar anda meliriknya sedikit saja, peduli pada kebutuhannya dan memberinya kenikmatan sedikit saja, dalam bentuk kesendirian dan perhatian anda pada diri anda sendiri.
Manusia, dalam hidupnya, seringkali melupakan keberadaan hatinya sendiri. Bagian yang dinamakan solar plexus, bagian dari jantung yang benar-benar ada dan memiliki fungsi untuk mengatur perasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali mereka ditelantarkan, manusia terus mengejar ambisinya dan obsesinya demi memnuhi kebuthuan duniawi dan kebutuhan fisik saja tanpa sadar bahwa bagian terkecil dalam jantung inilah yang mewakili kehidupan non-fisik dari seorang manusia.
Aku, disini, berbicara seperti ini bukan berarti akulah orang yang paling hebat, paling benar, dan paling bisa memanjakan solar plexus ku, salah, aku di sini, berbicara seperti ini, karena aku tidak ingin banyak hati hati kecil yang terluka, jenuh dan jemu karena terus mengejar tujuan duniawi kita masing-masing tanpa memanjakan diri kita sendiri. Bukan kenikmatan duniawi yang aku maksud di sini tapi kenikmatan jiwa dan rohani yang dapat dicapai dengan cara yang berbeda dari tiap orang. Jujur saja, dengan aku menulis seperti ini, aku sudah merasa mendapatkan kenyamanan untuk hati kecil ku karena ia tahu bahwa aku memberikan sedikit waktuku untuk memperhatikan perasaanku sendiri. Semoga anda sekalian dapat mencapai sebuah titik dimana anda dapat merasaskan kenikmatan rohani dan ketenangan dalam jiwa anda dimana anda dapat bersyukur dan mengucap terimakasih atas ap ayang telah anda miliki tak peduli anda kaya miskin karena kita semua sama derajatnya dan sama-sama memiliki bagian hati kecil yang suci dan merefleksikan kehidupan batin sanda.

Thursday, December 27

Pertumbuhan Perekonomian Indonesia 2013


               Saya baru saja melihat sebuah berita kecil pada Kompas Kamis, 27 Desember 2012 yang berjudul “Kondisi Ekonomi Masih Belum Pasti”. Berita ini memberitahukan kita tentang adanya ancaman dalam pertumbuhan ekonomi di tahun 2013 mendatang. Ada beberapa factor yang baik secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara signifikan. Secara umum, faktor ini dibagi dua yaitu factor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor dari luar yang akan mempengaruhinya adalah 1kondisi perekonomian dunia yang belum pulih dari krisis yang juga akan mempengaruhi faktor internal yang dapat mengguncang perekonomian seperti subsidi BBM yang terus meningkat, alokasi anggaran infrastruktur yang mengecil, neraca pembayaran yang tidak seimbang, serta potensi rasionalisasi perusahaan akibat naiknya UMR.
                Melihat cikal bakal masalah perekonomian yang akan muncul di tahun 2013 ini, saya merasa sangat prihatin melihat kondisi bangsa ini yang ironis. Terus terang, saya berasal dari keluarga yang pas-pasan. Tergolong kaum ekonomi menengah ke bawah. Menurut sudut pandang saya, saya merasa pemerintah tidak berdaya menghadapi situasi ini. Saya bukanlah ahli ekonom atau pengamat politik, saya hanya seorang mahasiswa baru yang memiliki pandangan yang masih lurus. Yang paling mau saya soroti adalah masalah kenaikan BBM.
                Isu kenaikan BBM bukanlah hal yang baru dibahas, isu ini sudah merebak dari pertengahan tahun 2012 lalu dan bukan hal yang tidak mungkin isu ini akan merebak kembali pada tahun 2013 yang tinggal beberapa hari lagi. Penyebabnya adalah jika situasi jatah subsidi masih seperti sekarang alias harga BBM tidak dinaikan, neraca perekonomian Indonesia akan terguncang besar. Berdasarkan data yang ada, dapat dilihat bahwa permintaan BBM bersubsidi dari hari ke hari terus meningkat, hal ini berdampak besar pada APBN Negara. Isu yang merebak pada pertengahan tahun 2012 lalu adalah mengenai jatah BBM bersubsidi. Pada kenyataannya, sekarang, biaya yang digunakan untuk BBM bersubsidi bahkan melewati batas dari yang telah dijatahkan dan kondisi ini tidak akan berubah sampai muncul kesadaran dari masyarakat untuk berhenti menggunakan BBM bersubsidi. Di lain sisi, jumlah kendaraan yang beredar di kota tempat tinggal saya, Jakarta, sudah melewati batas wajar menurut saya. Dapat dilihat secara kasat mata saat jam kerja di hari kerja biasa, ruas jalan seperti Jalan Sudirman, Kuningan, atau Thamrin dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan bermotor. Kenaikan volum kendaraan bermotor ini juga menyebabkan konsumsi BBM baik yang bersubsidi maupun tidak akan meningkat (juga kecenderungan untuk menggunakan BBM bersubsidi).
                Menurut saya, pemerintah terlalu takut kekuasaannya lengser hanya karena tidak didukung kembali oleh masyarakat. Mengapa saya bisa berkata seperti itu? Dalam kasus perdebatan kemarin, secara keseluruhan, pemerintah tidak menaikan harga BBM karena takut masyarakat merana. Namun dampaknya adalah anggaran Negara menjadi kacau dan tidak jelas, dengan kata lain pemerintah hanya membuaikan masyarakat dengan kesenangan sesaat namun menghancurkan Negara perlahan-lahan. Sekarang dampak itu mulai terasa, dan bila anggaran untuk BBM bersubsidi tidak dikurang, akan mempengaruhi perkembangan infrastruktur karena jatah anggaran telah terkuras untuk subsidi BBM dan secara tidak langsung ini akan membawa bangsa kita menuju degradasi.
                Maka dari itu ada beberapa solusi yang saya tawarkan, saya bukanlah ahli politik bahkan saya tidak memiliki kekuatan sama sekali namun untuk membantu mengatasi masalah ini, saya pertama-tama akan menghimbau masyarakat untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi. Saya sendiri bukan berasal dari keluarga mampu namun kesadaran saya untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi sudah terbangun. Kedua, terus terang saya menghimbau pemerintah untuk menaikan harga BBM daripada Negara menjadi hancur, mengapa? Menurut saya, penggunaan BBM yang berlebihan hanya didasari oleh alasan yang kurang penting seperti misalnya untuk bahan bakar kendaraan bermotor yang digunakan untuk berjalan-jalan ataupun karena misalnya satu keluarga memilki banyak kendaraan bermotor yang berujung pada membengkaknya konsumsi BBM.
                Saya menulis tulisan ini bukan bermaksud untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu, saya hanya mengutarakan pendapat saya mengenai suatu masalah yang berkaitan dengan negeri kita sendiri dan saya tidak setuju jika masyarakat sipil seperti saya dan anda hanya diam saja dan menutup mata serta telinga dari masalah besar yang akan terjadi pada tahun 2013 akibat masalah subsidi BBM yang terus diperdebatkan kejelasannya. Mohon maaf bila ada salah-salah kata, terimakasih.

Tuesday, November 6

Tuhan

Tuhan, izinkan aku, mengetuk pintu hatinya
izinkan aku, masuk dalam hidupnya
izinkan aku, menjadi alasannya untuk tertawa

izinkan aku, menjadi tempatnya berkeluh kesah,
izinkan aku, menjadi sebuah berkah
bagi hidupnya yang kutau tak pernah mudah

Tuhan, kuyakin kau kirimkan dia bagiku tuk berikan warna baru
juga menamparku dengan kekuranganku
kau bawa dia ke dalam hidupku
mengubah cara pandangku pada dunia
caraku bersikap pada sesama
dan pandanganku untuk membalas kasih setiamu

Tuham, kau tau, bagiku, dia bukan wanita biasa
Dialah alasanku untuk tersenyum di pagi hari
karena tau dia telah tertidur nyenyak di malam harinya
dialah alasanku untuk menangis di malam hari
karena aku melihat dia terluka dan aku,
hanyalah seonggok daging yang tak dapat berbuat apapun.
tak dapat menghapuskan air mata itu dari wajhanya
dan hanya bisa melihat hatinya terluka, tanpa tau sebab dan tak tau harus bertindak

Tuhan, bukan hasratku untuk memilikinya,
melihatnya tersenyum sepanjang hari, sudah sangat cukup bagiku
karena lubuk hati terdalamku berkata bahwa aku harus menjaganya,
selalu melukis senyuman di wajahnya,
dan menemaninya melewati beratnya hidup yang dijalani.

Tuhan, inikah cinta?

Sunday, September 30

ketika cinta, tak lagi untuk dimiliki

ketika cinta, tak lagi untuk dimiliki
ku terbangun di ruang yang sunyi
terduduk tak berdaya seorang diri
terbangun paksa dari sebuah mimpi

ketika cinta, tak lagi untuk dirasakan
hanya objek yang selalu bertahan
bertenggar di pojok hati yang kosong
menunggu seseorang untuk membopong
memberi warna dalam kalbu yang bolong

ketika cinta, tak lagi dapat diraih
seberapa keras pun kau berlari
tak terjangkau sampai mati
membuat ku terduduk sepi
dan lagi-lagi
seorang diri

ya..... kala itu, cinta bukan lagi untuk diri sendiri

Tuesday, June 26

Pujangga Bau Kencur


aku pujangga
pujangga bau kencur
bermain kata
tak peduli struktur
dikerjai cinta
logika pun hancur
menjadi gila
jiwa pun melebur
karena cinta
yang tak pernah bertabur

Tuesday, May 8

Hidup Abis Mati

monyet mati orang mati
bangke monyet bakal busuk
jasad orang masuk peti
kemana monyet abis mati
kemana kita

orang takut mati
tanya kenapa
mati tu enak
hilang duka hilang beban
jalan msendiri di lorong batu

duit meas taj berarti
pahala sajaha yang menolong
ukuran manusia saat ajal
hanya Tuhan yang bisa lihat

kemana kita abis mati
taman serba ada kata alkitab
atau neraka tempat penyucian
atau hanya diam di peti
atau mendebu di tengah laut
kemana kita
kemana monyet

Andai

andaikan cinta itu suci
terangi hati membasuh jiwa
segarkan kalbu bawa tawa
bak secercah cahya matahari

andai andai dan andai
kuhanya bisa mengandai
dan tak pernah berenti mengandai
mencoba jadi orang pandai
dan mengerti cara mencintai

jujur ku tak mengerti
mengapar orang mabok asmara
bagai pedang bermata dua
trus menggores hati yang murni

trus lukai hati dengan kata
hiasi kepala dengan khayalan
terjebak dalam simulakrum
merampas kewarasan manusia

andai cinta tak perlu ada
karena cinta terlalu fana
maksud saya cinta manusia
hanya kerap membawa luka
beriming-iming kebahagiaan semu

entah apa yang ada di pikiran mereka
yang sedang dilanda badai asmara

Saturday, May 5

Bercinta

mengapa bercinta bila takut sakit?
mengapa bercinta bila akan berakhir?
mengapa bercinta yang justru hanya akan membuatmu terjatuh lagi?
mengapa bercinta bila kau tahu cinta itu fana?

Samudera

biru membentang
deras menantang
buatku memandang
lihat ombak menerjang

tak lepas dari pandangan
hamparan dan semua bentangan
menembus batas cakrawala
garis semu yang tak terbatas

kulihat burung2 merpati
menyusuri pasir yang sama
tempatku, tempatku, bergelut
dengan pikiran yang tak bernyawa

tu

membatu
membatu-batu
tanpa membantu-bantu
dan tak mau membantu
semua hati tlah menjadi batu
keras, kuat, kokoh, akibat terpaan waktu
tak lebih berarti dari kutu
menjelma jadi sosok hantu
ya, batu itu
hanya satu
hatu

Kita?

ketika burung masih bersiul
ketika ayam masih berkokok
ketika banteng masih bertanduk
manusia telah membatu

hidup tapi mati
bergerak tapi diam
tertawa tapi semu

karena hati yang murni
tlah hilang terbakar api
mencair menjadi comberan
dan telah menyublim
menjadi sesuatu yang konstan

Dilema Orang Gila

gila
mereka juga gila
mereka terlalu gila
aku tertarik terlalu dalam
dan keluar terlalu lama

tak ada yang bisa kulakukan
mematung , memasung
tersungging , menungging
tak berdaya

berdiri di persimpangan
saatnya aku memilih

Setengah Cinta

di malam sunyi ini
hanya terdengar tawa mereka

ya, mereka
dua orang yang telah menjadi bagian hatiku
tuk sekian lama

ya, dua orang
aku tak tau harus apa bertindak
hanya bisa memandang ke atas
menggergaji telingaku dengan segera
agar aku tuli, buta oleh semua suara

aku hanya ingin lari
Bintang, bawa aku ke atas
ulurkan ekor kosmikmu ke tempat ini
tempat aku terbaring tak berdaya
agar aku bisa lari, terbang, melayang
bermigrasi ke tempatmu berpijak
di galaksi bimasakti

mengapa?
agar aku selalu mendapat tempat
tempat yang kokoh
di angkasa biru yang luas
dan di hati mereka
walaupun ini salah

Sunday, December 25

Feliz Navidad!

Selamat Natal kawan-kawan sekalian bagi yang merayakan :)
Natal bagi saya, selalu memiliki arti yang lebih dibandingkan hari-hari lain. Bahkan kata orang, natal itu "the most beautiful time of the year!" Bagaimana menurut anda, kawan?

Anda boleh saja merasa hari natal tidaklah lebih dari hari-hari biasa lainnya. Apa bedanya? "toh itu hanya 1 dari 365 hari lain?" Ya, itu hak anda. Namun bila anda berpikiran seperti itu, mungkin saya berusaha memperluas cara pandang anda dan menurut saya momentum natal seperti ini sangat disayangkan bila dilewatkan sama seperti hari-hari biasa.

Pertama-tama, anda tak dapat memungkiri, sewaktu anda kecil dahulu, natal adalah tanggal yang paling anda tunggu-tunggu. Kenapa? Ya! Si pria berjanggut berpakaian merah itu akan tiba di rumah anda dan membawakan anda hadiah. Benar bukan? Masih jelas di benak saya, pengalaman saya sewaktu kecil. Saya bukanlah anak dari keluarga berada, namun keluarga saya berpenghasilan cukup untuk kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak ada pohon natal yang megah dan bersinar, tidak ada topi sinterklas yang pasti kita suka, tidak ada kado-kado yang bergelimpangan, saya tetap menikmati suasana natal. Mengapa? Natal adalah suatu hari raya yang hanya diperingati sehari setiap tahunnya memperingati kebangkitan Tuhan Yesus. Tulisan saya tidak bermaksud menjurus ke dalam permasalahan agama. Namun kelahiran orang itu tentu membawa pengharapan yang baru dalam diri setiap insan. Sama seperti seorang anak kecil yang berharap santa akan datang dan memberikan sekarung permen yang ia suka. Berharap itu gratis, men!

Permasalahan di sini adalah apakah kita masih terus berharap dan bermimpi saat kita dewasa?Masih adakah harapan-harapan kecil dalam diri kita setiap natal seperti yang kita harapkan sewaktu dulu? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kesibukan kita sehari-hari telah membuat tak ada lagi waktu untuk berharap. Bagi mereka yang tidak lagi berharap pada hal-hal yang sedikit mustahil, atau realistic, sebutan yang mereka berikan pada diri mereka sendiri, hidup bukanlah soal pengharapan, tapi soal usaha apa yang akan kita lakukan untuk memperoleh sesuatu. Bila sesuatu itu tak mungkin kita peroleh, mungkin para realistis itu akan berhenti berusaha.

Pilihan ada di tangan kita, menjadi seorang yang realistis atau menjadi seorang yang penuh harapan. Saya memilih yang kedua. Karena dengan berharap, kita tahu apa tujuan kita dan apa yang ingin kita peroleh. Apakah di masa kehidupan yang serba cepat dan serba instan ini, sudah tak ada lagi waktu untuk mengharapkan sedikit permohonan-permohonan kecil? Kemana karakter masa lalu anda yang tak pernah berhenti berharap, berharap sesuatu yang besar, tanpa peduli apakah akan terpenuhi atau tidak? Kita, orang-orang dewasa, sudah tak lagi berani berangan-angan yang tinggi. Kita terlalu takut jatuh karena kita terlalu banyak berpikir, menganalisa sesuatu yang padahal belum pasti.

Waduh, sebenarnya awalnya saya ingin membahas tentang makna natal di tanggal 25 Desember ini. Namun sepertinya otak saya mengalir ke muara yang salah. Semoga tulisan ini memotivasi anda, tak ada salahnya berharap! Merry Christmas!

Nostalgia

sshhh sshhh sshh

dari tepian pantai nun jauh disana

ku duduk terdiam beralaskan pasir

seorang diri. tanpa dirinya.


pikiranku melayang pada 555 hari yang lalu

di tempat yang sama pada hari yang sama

kita mengucap janji suci itu

iringan deburan ombak yang tak kunjung tenang

menjadi lambang cinta kita yang tak kunjung sirna


siang hari di kala itu, berjalan menyusuri pantai

berdua, ya hanya berdua, aku dan kamu

jalan setapak kecil di pesisir itu

menjadi simbol perjalanan cinta kita

yang akan kita hadapi bersama

Matahari sampai iri melihat cinta kita


Senja di kala itu, sang surya mulai unjuk gigi

menunjukkan keindahan yang luar biasa

yang menakjubkan beribu orang

terbelah oleh cakrawala kemerahan

menghilang dari pandangan mata

Sayangnya, tetap tak seindah senyuman yang muncul dari wajah mungilnya


Malam di kala itu, duduk berdua di atas batu karang

memandang ke langit nan gelap

yang diwarnai oleh bintang-bintang kecil

Terdiam seribu bahasa, tanpa sepatah kata

Menikmati indahnya waktu berdua


Berbekal segenap keberanian,

Kunyatakan hasrat dalam hati ini

Kuingin selalu denganmu

Berjalan menghadapi hidup yang tak mudah, berdua



Senyuman pun muncul di wajahnya

tanda cinta yang terbalas

Senang sedih takut gembira jadi satu

Karena rintangan di depan tak akan mudah

Namun janji telah terucap,

Tuk terus ada di sisi, hanya karena cinta.

oh indahnya nostalgia

Monday, December 12

Mondar-mandir

Salam hangat dan sejahtera, saat saya mengunjungi blog saya, saya tersentil oleh pertanyaan dari salah seorang pengunjung blog ini. "Apa tujuan hidup saya?" Pertanyaan yang sederhana sekali namun menyimpan sejuta arti dan sejuta jawaban...

Pernahkah anda bertanya pada diri anda sendiri, apakah tujuan hidup anda? Sudah terlalu banyak orang yang sibuk karena rutinitasnya sehingga mereka sudah sama sekali tidak memikirkan martabatnya sebagai manusia dan tujuan hidupnya. Orang pertama mengatakan, "Tentu saja mencari kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya." Orang kedua berkata, "Kita hidup untuk mengungkap miliaran rahasia semesta yang masih tersembunyi lewat ilmu pengetahuan yang tak terbatas." Sementara orang naif berkata, "Kebahagiaan adalah tujuan hidup kita. Mencari kebahagiaan." Berada di kelompok manakah anda?

Menggunakan kacamata realis, jawaban orang pertama dan orang kedua adalah jawaban yang paling tepat untuk menjawab tujuan hidup kita. Namun saya rasa, di setiap hati kecil manusia, pasti selalu memiliki hasrat untuk memperoleh kebahagiaan seperti kata orang naif itu. Pernyataan ini menggelitik bagi saya. "Kebahagiaan", apa arti kebahagiaan? Bagaimana cara kita memperoleh kebahagiaan? Apakah yang akan kita lakukan bila kita sudah bahagia? Nurani saya kembali bergejolak lewat pertanyaan-pertanyaan itu.

Bahagia. Bukan sesuatu yang diragukan bahwa semua orang mencari kebahagiaan. Kebahagiaan bersifat universal, berlaku untuk semua orang. Tidak peduli putih, hitam, kuning, keriting, cerdas, bodoh, kaya dan miskin. Tidak ada seorang pun yang tidak ingin merasa bahagia. Permasalahannya muncul di sini, bagaimana interpretasi kebahagiaan menurut anda?

Alkisah, seorang pemuda yang berasal dari desa pergi merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia sudah muak dengan kehidupan yang biasa-biasa saja di desa. Ia ingin maju dan menjadi orang kaya di kota, maka pergilah dia ke kota. Kehidupan di kota tidak berjalan sesuai dengan pemahamannya. Persaingan di mana-mana, tidak pandang teman, kawan atau bahkan saudara, jika sudah berkaitan dengan uang, semua menjadi lawan. Jatuh bangun ia bekerja mengumpulkan lembar demi lembar uang untuk mengisi pundi-pundinya, akhirnya ia mempunyai modal yang cukup untuk membuka sebuah usaha dan menjadi pedagang. Ia senang. Saat itu. Itukah kebahagiaan yang dicari? "Belum!", kata pemuda itu. Maka ia tak henti-hentinya dengan tekun dan semangat, hari demi hari ia bekerja tanpa kenal lelah, tidak jarang ia harus menyampaikan selamat tinggal pada jam tidurnya karena ia harus menunggu barang kiriman yang datang, tidak jarang pula ia menanggung rugi karena dagangganya tidak laku, namun ia tak menyerah dan terus menumpuk harta.

Akhirnya sampailah ia pada sebuah titik puncak. Ia berhasil membeli rumah dari uang jerih payahnya sendiri setelah sekian tahun bersusah payah membayar kontrakan rumah. Ia pun telah memiliki mobil pribadi karena penjualannya dalam waktu dekat sangatlah berhasil. Masalah uang, ia tidak perlu ambil pusing lagi sekarang. Apakah kebahagiaan sudah diperoleh? "Tentu saja aku bahagia saat ini! Bagaimana tidak, aku sudah sukses dan berhasil di kota." begitulah kurang lebih hati dari pemuda itu berbicara. Ia sudah merasakan kebahagiaan itu, tapi apakah ia berhenti pada titik itu? Tentu saja tidak. Ia terus dan terus menumpuk pundi-pundi hartanya.

Namun tibalah hari dimana semua itu berakhir. Malam itu, seorang pesaing dagang dari pemuda itu yang sudah lama iri kepadanya mempunyai niat jahat. Di saat pemuda itu terlelap bergelimangan harta, rumahnya dibakar. Kebakaran yang bukan main-main timbul. Hampir 6 branwir harus mengatasi kebakaran itu. Semuanya lenyap, ludes, dimakan api. Pemuda itu hanya dapat menangis setelah bersusah payah keluar dari lalapan api. Semua hasil keringatnya hilang. Tanpa bekas. Apakah itu, yang juga disebut kebahagiaan? "Ya enggak lah, wong dia uda ga punya apa-apa gimana mau bahagia?"

Dari pertanyaan itu, apakah kebahagiaan harus diukur dengna materi? Jika ya, apakah dengan mencari harta sebanyak-banyakanya, kita dapat bahagia selamanya? Jika anda berkata, "Roda kehidupan selalu berputar, kadang manusia ada di atas, kadang manusia ada di bawah." Kalau begitu, untuk apa kita bersusah-susah bekerja keras, toh nanti kita juga akan berada di atas? Dan jikalau roda kehidupan terus berputar, pernahkah anda merasa jenuh akan hidup yang terasa begitu monoton, hampa, dan hanya seperti siklus yang terus berputar, pada suatu saat kita akan berdiri pada titik dimana kita memulai semuanya. Saat kita meninggal, kita hanya akan menjadi debu tanpa membawa sehelai benang pun. Sama seperti saat kita dilahirkan. Telanjang. Ya, itulah martabat manusia yang sebenarnya.

Tulisan saya kali ini awalnya berniat untuk menemukan hasil pergolakan batin saya terhadap tujuan hidup saya di dunia. Namun sepertinya saya gagal, dan pertanyaan demi pertanyaanpun terus mengalir deras di otak saya tanpa dapat saya bendung, sepertinya saya hanya mondar-mandir di dunia ini. Bagaimana dengan anda?

Friday, December 9

Sekilas tentang Saya

Saya adalah seorang pengembara dalam hidup ini. Ya, mereka masih memanggil saya bocah. Tapi saya lebih baik menjadi seorang anak kecil yang naif dan polos daripada harus tumbuh menjadi orang dewasa yang hidup dalam dunia kemunafikan. Tidak setuju? Maaf, kita semua tahu apa yang ada di luar sana. Setiap orang tak pernah menunjukkan tampang aslinya. Kedok selalu digunakan dan diganti-ganti sesuai dengan kemunafikan. Di depan atasannya, orang itu akan menjadi sosok budak yang patuh pada seluruh perintah majikannya dan bagaikan anjing, menjilat-jilat kaki atasannya. Sementara dengan bawahan, orang itu akan mengganti kedoknya menjadi seorang tokoh antagonis yang bertindak semena-mena. "gua bos nya disini, lu ga bisa ngelawan gua." kata-kata itu pasti sering muncul di pikiran anda, baik anda sadari atau pun tidak. Tidak percaya? Introspeksi diri! Maaf tapi memang, dunia sudah terlalu laknat dan penuh dengan kemunafikan.
Saya hanyalah sebuah titik di Bumi ini. Saya bukan Steve Jobs, Bill Gates, ataupun Sri Mulyani. Bagi mereka, saya hanyalah seonggok daging bernyawa yang hidup untuk memenuhi celah di dunia ini. Maaf, saya begitu pesimis, tetapi begitulah cara saya memandang dunia. Saya selalu bercita-cita, kelak saya akan menjadi yang nomor satu. Mimpi saya hanyalah satu yaitu ketika nanti saya harus pergi meninggalkan dunia ini, saya meninggalkan sejuta manfaat bagi seluruh orang di dunia ini tanpa harus memandang suku, agama, ras dan golongan. Kita semua adalah sama. Ketika suatu hari nanti Lucifer bersama seluruh pasukannya datang untuk menjemput kita semua di dunia ini, yang tersisa dari kita hanyalah tulang belulang. Apa yang membedakan aku dan kamu?
Begitulah persepsi saya sebagai orang awam yang berdiri dari sisi bumi memandangi suramnya kehidupan di dunia ini. Selain hal itu, saya suka mengkritisi semua hal melalui puisi karya saya asli. Karnea menurut saya, melalui untaian baris demi baris puisi lah kita dapat mengekspresikan seluruh rasa yang ada dalam diri kita, tidak terikat ruang, waktu dan UANG. Tidak perlulah identitas saya disebutkan di sini, namun bila anda berkenan dengan tulisan saya. Tidak ada salahnya anda memaknai tulisan dan puisi saya karena percayalah, orang yang mau membuka diri dengan pikiran orang lain akan menjadi orang yang sukses. Amin!